Selasa, 05 November 2019




MAKALAH
MANAJEMEN PEMASARAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
PERKEMBANGAN PEMASARAN TRADISIONAL
KE PEMASARAN YANG GLOBAL (REVOLUSI INDUSTRI 4.0)

Disusun Oleh :
NAMA : UTARI DAMAYANTI
NPM : 17216487
KELAS : 4EA33
DOSEN : ZAIDATUN EKASTUTI,S.E.,M.M




UNIVERSITAS GUNADARMA KARAWACI
2019


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang mana atas berkat dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perkembangan Pemasaran Tradisional Ke Pemasaran yang Global (Revolusi Industri 4.0)”. Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih.
 
        Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata saya berharap semoga makalah ini  dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca. Terima kasih


  


Tangerang,  November 2019



                                                                                                                   Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
     Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh perusahaan maupun perorangan untuk memasarkan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut disebabkan karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, dimana secara langsung berhubungan dengan konsumen. Maka kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan pasar. Dalam era persaingan usaha yang semakin kompetitif sekarang ini, setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan kompetisi dalam persaingan pasar akan memberikan perhatian penuh pada strategi pemasaran yang dijalankannya .
     Saat ini pemasaran telah berkembang mengikuti zaman, revolusi industri dan globalisasi seakan menjadi satu kesatuan yangtak terlepas dari kehidupan manusia. Seperti yang telah diketahui banyak orang pada saat ini sudah menggunakan teknologi yang lebihcanggih mulai dari bidang industri sampai perdagangan pun menggunakan teknologi. Sama, halnya dengan pemasaran saat ini pemasaran telah menggunakan teknologi dan berkembang dari zaman ke zaman dan mennunjukan untuk membantu perekonomian serta kegiatan manusia saat ini.

1.2    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.      Pengertian dari Pemasaran?
2.      Bagaimana perkembangan pemasaran dari Tradisonal ke pemasaran 4.0?
3.      Apa saja Dampak dari Pemasaran Revolusi Industri 4.0?
4.      Sapa saja Keuntungan dari Pemasaran Revolusi Industry 4.0
5.      Apa saja Prinsip Rancangan Industri 4.0?


1.3    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dari pemasaran
2.      Untuk mengetahui perkembangan pemasaran dari Tradisonal ke pemasaran 4.0
3.      Untuk mengetahui Dampak dari Pemasaran Revolusi Industri 4.0
4.      Untuk mengetahui Keuntungan dari Pemasaran Revolusi Industri 4.0
5.      Untuk Mengetahui Prinsip Rancangan Industri 4.0


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pemasaran
     Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kagiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Proses pemasaran itu dimulai jauh sejak sebelum barang-barang di produksi dan tidak berakhir dengan penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika mengingginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang baik terhadap perusahaan.
     Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
     Menurut William J Stanton, pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusi-kan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli maupun pembeli potensial 

2.2    Perkembangan Pemasaran Tradisional ke Pemasaran 4.0
     Perkembangan pemasaran bermula ketika tahun 1900 terjadi sebuah revolusi industri secara besar-besaran dan mengubah cara atau perilaku masyarakat. Jika sebelum terjadinya revolusi masyarakat masih mengenal cara berbisnis dengan ciri utama merkantilis (berdagang), maka setelah revolusi perilaku bisnis masyarakat berubah menjadi kapitalis. Keadaan berubah menjadi kapitalis dikarenakan munculnya kekuatan baru didunia perdagangan, dimana banyak orang-orang yang memiliki uang yang banyak menggunakan uang mereka sebagai modal untuk membangun pabrik dan perusahaan. Tujuannya tidak lain adalah untuk memproduksi barang secara lebih cepat dan memperdagangkannya. Pada tahun 1902 disebuah universitas bernama University of Michigan, ED Jones dikabarkan memberikan pelajaran marketing serta Simon Litman di University of California. Meskipun pada saat itu marketing masih berfokus pada distribusi produk, namun pemikiran teori marketing lebih banyak muncul di universitas seperti Wisconsin, Northwestern University, Harvard, University of Illinois serta Ohio State. Sebenarnya jauh sebelum ilmu marketing diperkenalkan tahun 1902.
     Pendekatan marketing memiliki 3 jenis kunci utama yaitu advertising, selling dan distribusi. Namun, Ralph Butler dan Arch Shaw menambahkan kunci lainnya seperti komoditas, institusi, dan fungsi. Dimana marketing telah membahas mengenai jenis produk, cara pemasaran dan organisasi yang memasarkan serta pada tahun 1914 muncul sebuah literatur Nystrom mengenai retailing. Nystrom menulis bahwa retailing mencakup semua proses distribusi, manajemen ritel, jenis produk, cara pemasaran dan organisasi yang memasarkan sehingga ilmu marketing menjadi terintegrasi.
     Pemasaran tradisional adalah bahwa pemasaran hanya menjual dan iklan, dan 4P (produk, harga, tempat dan promosi). Prinsip-prinsip dasar dan konsep pemasaran tradisional adalah produk, perilaku konsumen dan aktivitas kompetitif di pasar. kunci dari Pemasaran Atau Marketing Tradisional adalah sebagai berikut :
1.      Fokus pada properti dan keuntungan.
Pedagang tradisional berasumsi bahwa klien dalam setiap segmen pasar selalu berfokus pada karakteristik produk, mengevaluasi lebih banyak fitur dan memilih produk dengan utilitas umum yang tinggi. Manfaat rata yang timbul dari karakteristik fungsional. Laba adalah utilitas yang akan mencari customer.Sebagai contoh manfaat sikat gigi yang memutihkan gigi atau hanya membersihkan gigi.

2.      Kategori dan persaingan untuk produk didefinisikan erat.
Pedagang tradisional selalu menentukan pesaing Mc Donalds adalah Burger King dan Wendy (tidak dibandingkan dengan Pizza Hut atau Starbucks), BritAma dengan Tahapan BCA, Kijang dengan Panther, Carrefour Raksasa (tidak ada Tip Top atau Ramayana).kompetisi pedagang tradisional hanya sempit didefinisikan tergantung pada kategori produk.

3.      Pelanggan dilihat sebagai pengambil keputusan rasional
Proses pengambilan keputusan yang lama diasumsikan, Pengenalan persyaratan. Perbedaan persepsi antara pernyataan untuk memenuhi kebutuhan dengan keadaan sebenarnyalah yang mendorong pelanggan untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

4.      Metode dan alat yang digunakan adalah Analisis, Kuantitatif dan Verbal
Mengevaluasi berbagai alternatif. Pelanggan selalu membandingkan produk yang ada dalam hal fitur dan manfaat untuk menjadi tempat terbaik untuk memilih produk. (Close Up yang menyediakan nafas segar, membuat gigi putih terang, aroma mint, yang diantarnya penting dibandingkan dengan Pepsodent). Membeli dan makan. pelanggan akan membeli dan menggunakan alternatif terbaik dan selalu mendapatkan tingkat kepuasan dengan membandingkan kemanjuran yang diharapkan dengan nyata setelah menggunakan produk. Jika pelanggan puas maka ia akan membeli produk lagi suatu hari nanti.

Marketing 4.0 adalah marketing yang berfokus pada kemanusiaan di era digital. Di sini pendekatan pemasaran mengkombinasikan interaksi antara online dan offline. Mungkin, lebih mudah mencontohkan usaha dahulu dalam Pemasaran 4.0. Ada beberapa contoh usaha dalam revolusi industri 4.0 ini :
1.  Fintech ( Financial Technology ) adalah nancial technology/FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik. Contoh : Aku Laku, Home Credit, Dana, Go-pay.
2.    Jual beli Online adalah bisnis yang dilakukan melalui internet dimana penjual dan pembeli tidak langsung bertatap muka, dan biasanya bisa dilakukan melalui website atau media sosial. Contoh : Shoppee, Tokopedia, OLX, Zalora, Buka Lapak.
3.   On-Demand service adalah sebuah layanan jasa yang berdasarkan permintaan konsumen. Contoh : Go-jek, Grab.

Ada 3 kunci stategi yang digunakan dalam pemasaran 4.0 ini, adalah sebagai berikut:
1.   E-mail dimana pemilik usaha lebih sering menggunakan email untuk berkomunikasi antar sesama bisnis (kepada parner bisnis dan pemasok) maupun terhadap pelanggan serta memberi tahukan informasi mengenai produk maupun memberikan kupon.
2.  Website merupakan halaman situs sistem informasi yang dapat diakses secara cepat mengenai informasi. Dimana perusahaan memberikan informasi mengenai produk, pelayanan, kerjasama ataupun pemegang saham mereka melalui website dan mencoba dekat dengan konsumen.
3. Online Video Advertising adalah Online advertising adalah sebuah bentuk pemasaran periklanan yang menggunakan internet untuk menyampaikan pesan pemasaran dan promosi kepada konsumen. Mulai dari banner ads, Search Engine Marketing (SEM), iklan di jejaring sosial, email marketing, sampai ke iklan baris online.

2.3    Dampak dari Pemasaran Revolusi Industri 4.0
1.      Dampak Sosial
Hal yang paling menonjol dari revolusi industri 4.0 adalah penggunaan teknologi dan mesin yang dapat menggantikan peran manusia dalam proses industri. Kegiatan ini dapat menyebabkan berkurangnya peranan atau campur tangan manusia dalam proses produksi. Hasilnya adalah berkurangnya lapangan pekerjaan dalam industri manufaktur. Tidak hanya itu hal ini juga dapat menyebabkan sistem pendidikan sebelumnya tidak lagi menjadi relevan dalam dunia kerja.

2.      Dampak Politik
Kedua adalah dampak politik, regulasi yang dapat menjadi penyeimbang diperlukan. Satu sisi industri 4.0 diperlukan untuk memenuhi kebutuhan permintaan akan produk dengan harga yang terjangkau. Di sisi lain penggunaan mesin menyebabkan tingginya angka pengangguran yang dapat berdampak pada iklim ekonomi secara keseluruhan.

3.      Dampak Ekonomi
Ketiga adalah dampak ekonomi yang tejadi seperti perubahan terhadap bebrapa model bisnis sebelumnya, tingginya biaya yang diperlukan untuk sebuah perusahaan dalam mengimplementasikan industri 4.0. Selain itu penanaman modal berlebihan terhadap teknologi akan menghasilkan keuntungan ekonomi untuk perusahaan tersebut. Faktor seperti teknologi baru atau mesin baru dapat menyebabkan kerugian dari investasi teknologi sebelumnya.

2.4    Keuntungan dari Pemasaran Revolusi Industri 4.0
1.      Efisiensi dan Produktivitas Meningkat
Keuntungan pertama yang akan di dapat dari revolusi industri 4.0 adalah meningkatnya  efisiensi produktifitas pada proses produksi. Dapat memproduksi volume barang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit dengan bantuan teknologi yang ada.

2.      Biaya yang Lebih Murah
Penggunaan teknologi serta mesin otomatis dapat memotong biaya produksi cukup besar, seperti gaji karyawan, uang makan, dan lain sebagainya. Penggunaan Cyber Physical System memungkikan perusahaan manufaktur memproduksi barang dengan cepat dan aman dibandingkan dengan tenaga manusia. Hal ini membuat peranan manusia terhadap proses produksi semakin kecil. Apabila di era terdahulu membutuhkan 20 orang untuk memproduksi sebuah mobil, sekarang mungkin hanya membutuhkan 3 orang dengan bantuan robot industri.

3.      Manajemen Resiko yang Lebih Baik
Manajemen resiko perusahaan manufaktur juga menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan dengan berkurangnya resiko seperti, human error yang dapat menghambat proses produksi. Penggunaan artificial intelligent adalah salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan dalam meminimalisir resiko yang dapat menghambat proses produksi.

4.      Identifikasi dan Pemecahan Masalah yang Lebih Cepat
Keunggulan selanjutnya adalah dengan menggunakan teknologi dan informasi digital pada industri perusahaan dapat mengontrol dan mengelola data dan informasi secara aktual dan cepat. Dampaknya adalah perusahaan dapat secara cepat dan tepat mengatasi permasalahan yang terjadi, sehingga tidak menjadi masalah yang besar dan dapat menggangu operasi perusahaan.

2.5    Prinsip Rancangan Industri 4.0
Revolusi industri 4.0 memiliki empat prinsip yang memungkinkan setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario industri 4.0, diantaranya adalah :
  1. Interoperabilitas (kesesuaian) : kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media internet untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).
  2. Transparansi Informasi : kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor.
  3. Bantuan Teknis :pertama kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi manusia.
  4. Keputusan Mandiri : kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan dan melakukan tugas semandiri mungkin.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
    Pemasaran 4.0 pada dasarnya memiliki pendekatan secara online maupun offline. Kedua pemasaran ini masih digunakan dan juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ruang lingkup pemasaran tradisional dan 4.0 sama yaitu pasar, produk, distribusi, harga, iklan dan promosi.
     

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Phillip, Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan. 2016. Marketing 4.0: Moving From Traditional to Digital. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama

Jumat, 11 Januari 2019

Revitalisasi Peran Koperasi dalam Pembangunan Ekonomi Pertanian

Sejak terjadinya krisis moneter yang telah melanda Indonesia beberapa tahun yang lalu, disusul dengan kri­sis politik yang telah ba­nyak memicu tumbuhnya rasa tidak percaya dunia inter­nasional.
Kemudian diperburuk oleh krisis pangan yang seha­rus­nya dapat diprediksi sebe­lumnya mengakibatkan dam­pak kompleks yang tampak dari peningkatan jumlah te­na­ga ter­didik menganggur, menurunnya intensitas kegia­tan berbagai perusahaan, sam­­pai kepada sulitnya memperoleh bahan makanan pokok serta terganggunya distribusi sembako.
Dampak semua krisis telah menjadi beban pada gerak roda perekonomian nasional, se­hingga perekonomian Indonesia memasuki per­eko­nomian stagnan.
Gerak kegiatan yang berciri cepat dan tidak jarang menempuh jalur pintas deng­an maksud meng­hi­la­ngkan hambatan, sekarang ini ban­yak ditemui sebagai wujud aplikasi proses reformasi.
Ada dua hal yang dilaku­kan, pertama me­re­­formasi ber­bagai pola infrastruktur politik dan prekonomian nasio­nal yang kurang me­ng­untungkan, dan kedua me­nangani dengan segera ber­bagai dampak krisis yang diras­akan oleh rakyat.
Dua gerak kegiatan itu sedang dalam pro­ses penye­la­rasan, karena tidak jarang kedua­nya justru dapat me­nim­bulkan atau meng­aki­bat­kan terjadinya konflik ber­ke­panjangan.

Pemberdayaan Koperasi
Visi lembaga koperasi akan menunjukkan arah pelaksanaan seluruh kegiatan sehingga rangkaian pelak­sa­naannya termasuk alokasi sum­berdayanya dapat men­jadi efektif.
Sehubungan dengan itu, visi pemberda­yaan koperasi seyogyanya harus mengarah kepada “integrasi usaha yang mantap sehing­ga secara efektif mampu meng­ako­mo­dasi per­­mintaan pasar yang terbuka, penuh per­saingan pada lingkungan yang tidak lagi me­ngenal batas negara, dimana dalam jangka pan­jang satu-satunya kekua­tan perekono­mian yang mampu mendukung perekono­mian global akan bertumpu sepe­nuhnya pada bentuk kegiatan ekonomi rakyat” (Muslimin Nasution, 2016).
Rumusan ini menun­juk­­kan bahwa kegia­tan eko­no­mi nasional akan banyak di­ten­tukan oleh pe­ningkatan pe­ng­gunaan local content untuk produk-produk dalam negeri maupun ekspor. Lang­kah ini dimaksudkan untuk menghindari tekanan keter­gan­tungan pada pihak luar yang akan memerlukan du­ku­­ngan devisi negara.

Ekonomi Rakyat
Berdasarkan UUD 1945 ekonomi rakyat identik deng­an koperasi, yaitu kum­pu­lan orang–orang yang me­miliki kegiatan usaha atau­pun ke­pen­tingan ekono­mi yang sama.
Mereka harus mampu berperan bukan saja sebagai pemilik, melainkan secara efek­­tif dan konsisten juga se­bagai pengguna produk atau jasa koperasinya. Itu berarti secara rasional ada tuntutan tentang manfaat yang ingin diraih dari organisasi yang dibentuk.
Selama 70 tahun lebih pem­bangunan bangsa, per­ma­salahan yang patut dike­cewakan ialah ternyata misi pembangunan koperasi be­lum mampu menyentuh lan­dasan pikiran maupun ha­rapan the founding father.
Itu berarti diperlukan ada­nya reorientasi pada pem­bangunan misi koperasi, khu­susnya dalam upaya pem­ber­da­yaan koperasi sebagai lem­baga ekonomi rakyat. Praktis pertumbu­han kope­rasi sela­ma ini seolah-olah ter­kait de­ng­­an gerak dan dina­mika program peme­rintah.
Sementara itu program pembangunan yang diarah­kan untuk mewu­jud­kan ne­gara industri yang didu­kung sektor pertanian yang kuat justru telah meng­endurkan pembinaan kegia­tan pertani­an itu sendiri yang ternyata malah diposisikan se­bagai tu­la­ng punggung pem­bangu­nan.
Akibatnya koperasi men­jadi tidak mampu meng­em­bangkan diri, karena dengan berkutat di posisisi on farm, penanganan ber­bagai ma­sa­lah hanya mem­berikan in­sen­­tif yang kecil.
Hal itu sekaligus membuk­tikan bahwa konsep trickle down effect yang diharapkan dapat meneteskan hasil-hasil pembangunan bagi pening­ka­­tan kesejahteraan rakyat kecil, karena adanya per­uba­han kondisi lingkungan stra­tegis, telah menyebabkan tum­­buhnya kesulitan ter­sen­diri. Akibatnya fenomena pembangunan yang adil yang diharapkan terjadi ternyata ga­gal dibuktikan, bahkan dam­­paknya adalah kesen­ja­ngan yang semakin nyata.
Perubahan reorientasi misi mencakup pengertian agar misi tersebut mampu men­sti­mulasi pertumbuhan dan perkembangan koperasi men­­jadi wahana penggerak roda ekonomi bangsa mulai pada tingkat pereko­nomian do­mestik yang selanjutnya berdam­pak pada kekuatan perekonomian nasional.
Di sisi lain, misi pember­da­yaan koperasi harus men­ca­kup pemahaman bah­wa da­lam lingkup pengertian se­bagai suatu badan usaha, ko­pe­rasi perlu berakar pada kehi­dupan perekonomian rakyat. Upaya memba­ngun hal itu tidak mudah, karena pelaksanaan programnya relatif kompleks.
Sampai saat ini, koperasi belum sempat menikmati fasilitas berlebih seperti yang dinikmati oleh pelaku eko­no­mi lain. Namun pada se­jumlah koperasi yang telah memiliki ketahanan ekono­mi, dapat dibuka peluang se­luas-luasnya untuk me­na­ngani bidang-bidang usaha di sektor pangan, sandang dan papan secara utuh, mulai dari hulu sampai dengan hilir, serta tetap terkait erat dengan ke­butuhan masyarakat se­tempat.
Misi pemberdayaan kope­rasi yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber­daya manusia dan kualitas pendekatan yang digunakan oleh koperasi dapat dilaku­kan tersendiri atau secara ber­sama-sama, sehingga mampu menjadi alat redistribusi aset produktif dan nilai tambah produk yang dihasilkan.
Melalui pola seperti itu kon­­sekuensinya akan dite­mu­kan berbagai koperasi primer spesialis yang mampu menangani komoditi tertentu dengan lebih efektif dan efe­sien. Nantinya akan di­jum­pai bangunan-bangunan ko­perasi primer sebagai pen­jel­maan kekuatan eko­nomi rak­yat yang dapat mem­bangun kekuatan kehidupan pereko­no­mian domestik.
Pelaksanaan program pem­berdayaan koperasi tidak akan dilakukan secara spo­radis dan marjinal. Untuk itu­lah melalui aplikasi program-pro­gram yang realistik, diha­­­rapkan ditemukan per­baikan substansial dan mam­pu me­nampilkan makna kerak­ya­tan, kemartabatan dan ke­man­dirian koperasi serta tingkat pertumbuhan bisnis yang didasarkan pada prinsip kesetaraan.

Pemberdayaan
Dalam konteks member­da­yakan petani seyogyanya para pelaku pembangunan yang mempunyai kekuatan ekonomi untuk senantia­sa mengkonsentrasikan perhatiannya kepada akti­vi­tas petani di lahan pertan­i­an­nya sendiri.
Dalam hal ini koperasi merupakan ujung tom­bak yang paling strategis karena paling dekat dengan petani di desa. Koperasi meru­pakan ke­kuatan sosial sekaligus ba­dan usaha yang dapat mem­berikan keuntungan eko­no­mis.
Di samping penyediaan input produksi koperasi diha­rapkan mampu menjadi pe­rekat sosial sesama petani se­hingga memiliki fanatisme kon­struktif yang mampu ber­saing secara sehat dengan lembaga ekonomi lain. Inilah sebenarnya keunggulan kom­paratif lembaga ekonomi kerakyatan yang dinama­kan dengan koperasi di Indonesia.
Koperasi sebagai penjel­maan ekonomi kerakyatan pada hakikatnya mempunyai fokus utama dalam kegiatan pertanian sehingga keha­di­rannya benar-benar dalam upaya pengangkatan harkat dan martabat petani itu sendiri.
Sesungguhnya hikmah dari adanya krisis sekarang ini adalah pentingnya reo­ri­entasi misi koperasi sebagai wahana yang dapat melaku­kan kegiatan redistri­busi aset dan nilai tambah produk, se­hingga anggota mampu me­nikmati berbagai hasil per­juangan kerja­nya, menuju pada peningkatan kesejah­teraan.

Hal tersebut menuntut penumbuhan misi koperasi yang berorientasi pada pem­enuhan kebutuhan atau kepentingan anggota. Deng­an demikian dimung­kinkan koperasi bekerja at cost dan segala sesuatu kelebihan ya­ng dipero­lehnya akan kem­bali kepada anggota baik d­alam bentuk pemilikan aset maupun manfaat fisik dan sosial lainnya. Hal ini akan mendorong koperasi bukan saja mampu berusaha sejajar dengan pelaku ekonomi lain tetapi juga mampu berperan dengan ciri kepemimpinan yang “visionary leadership”.

Oleh : Utari Damayanti

3EA33